Langsung ke konten utama

Cilostazol - Anti Platelet

Cilostazol memiliki kode OPC-13013 dengan rumus kimia C20H27N5O2, Melting Point 158 - 162 C, Berat molekul 369,46. Cilostazol adalah derivat quinolone yang bekerja dengan menghambat enzym phosphodiaterase III (PDE III). Mekanisme kerja cilostazol berasal dari penghambatan PDE III  yang akan meningkatkan cAMP, dengan meningkatnya cAMP akan berakibat pada : (mekanisme kerja dan Fungsi Cilostazol):
  • Penghambatan agregasi platelet
  • Memperbaiki metabolisme lipid
  • Dilatasi dan menghambat proliferasi VSCM

Farmakokinetik Cilostazol
Cilostazol dapat diabsorbsi dengan baik setelah pemberian oral. Makanan yang banyak mengadung lemak akan meningkatkan Cmax 90% dan AUC 25%. Tmax 2 jam, waktu paruh 11-13 jam, ikatan protein 95%. Cilostazol dimetabolisme oleh enzym hepatic cytochrome P450 terutama oleh 3A4 dan sebagain kecil oleh 2C19, metabolit terutama dieksresi melalui urin. Aktivitas farmakologi cilostazol dan metabolitnya pada gangguan ginjal ringan sampai sedang sama dengan orang sehat, pada gangguan ginjal yang berat (creatine clearance <25ml/menit) akan meningkatkan konsenterasi metabolitnya dan menurunkan protein binding baik pada cilostazol maupun metabolitnya.

Indikasi Cilostazol
  • Pengobatan pada gejala iskemi termasuk ulcus, sakit dan dingin pada anggota tubuh pada oklusi arteri kronik.
  • Mencegah kekambuhan infark otak kecuali emboli cardiogenic cerebral.
Dosis 2 x 50-100 mg/hari
Efek samping sakit kepala dan dizziness
Kontraindikasi
  • Pasien dengan pendarahan
  • Congestive heart failure atau gagal jantung kongestif
  • Wanita hamil
  • Riwayat Hipersensitivitas
Interaksi Obat Cilostazol
1. Aspirin, pemberian jangka pendek <4 hari, aspirin bersama cilostazol meningkatkan penghambatan terhadap aggregator ADP sebesar 22-37%.
2. Warfarin, pemberian cilostazol tidak mempengaruhi efek farmakologi atau PT setelah pemberian warfarin single dose.
3. Clopidogrel, pemberian bersama akan secara bermakna meningkatkan AUC metabolit dehydro cilostazol 24%.
4. Penghambat CYP3A4 dan penghambat CYP2C19


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghilangkan flek hitam dan bekas jerawat di wajah

Kali ini kita akan membahas cara menghilangkan flek hitam dan bekas di wajah secara cepat dan alami sehingga lebih aman bagi kesehatan. Wajah merupakan bagian yang sangat terbuka dan pastinya merupakan hal yang pertama kali dilihat orang lain tentang kita, karena ketika kita pertama kali bertemu seseorang tentunya yang kita lihat adalah wajah orang tersebut. Hal ini yang menjadikan wajah yang bersih merupakan suatu impian dari semua orang terutama kaum wanita. Permasalahan umum dari wajah adalah timbulnya flek hitam atau noda yang dapat diakibatkan oleh berbagai hal salah satunya adalah bekas jerawat.   Flek hitam dan noda bekas jerawat pada wajah juga dapat disebabkan karena kulit wajah yang relatif sensitif bila dibandingkan bagian tubuh lain sehingga paparan debu dan asap pada wajah dapat menyebabkan timbulnya flek hitam dan noda pada wajah, terutama bila kita sering terlambat dalam membersihkan wajah setelah bepergian. Ada banyak sekali cara mengurangi atau bahkan meng...

Mekanisme Inflamasi

Pada postingan kali ini kita akan berbagi informasi tentang mekanisme terjadinya inflamasi lengkap dengan gambar yang menjelaskan mekanisme inflamasi terjadi. Inflamasi adalah respon kompleks dari tubuh terhadap suatu yang tidak mengenakkan. Inflamasi juga dapat didefinisikan sebagai respon p rote k tif terhadap luka ja r i n gan yang di s e b abkan o l eh t r au m a   f isik, termal, z a t   k i m ia   yang   m erusak, at a u za t -z at m ikrobiologik (penyebab infeksi). Mekanisme terjadinya Inflamasi dapat dibagi menjadi 2 fase yaitu: 1.  Perubahan vaskular

Mekanisme Terjadinya Nyeri

Nyeri sebenarnya adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh untuk melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan di tubuh. Dari nyeri ini tubuh akan melakukan tindakan yang diperlukan selanjutnya. Mekanisme terjadinya nyeri adalah sebagai berikut rangsangan(mekanik, termal atau Kimia) diterima oleh reseptor nyeri yang ada di hampir setiap jaringan tubuh,  Rangsangan ini di ubah kedalam bentuk impuls yang di hantarkan ke pusat nyeri di korteks otak. Setelah di proses dipusat nyeri, impuls di kembalikan ke perifer dalam bentuk persepsi nyeri (rasa nyeri yang kita alami). Rangsangan yang diterima oleh reseptor nyeri dapat berasal dari berbagai faktor dan dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu: Rangsangan Mekanik : Nyeri yang di sebabkan karena pengaruh mekanik seperti tekanan, tusukan jarum, irisan pisau dan lain-lain. Rangsangan Termal : Nyeri yang disebabkan karena pengaruh suhu, Rata-rata manusia akan merasakan nyeri jika menerima panas di...